Logo SMA NEGERI  1 KUALA

SMA NEGERI 1 KUALA

Kabupaten Bireuen

Telepon +62 813-6120-6315
Email Resmi smanegerikuala@gmail.com

MELAMPAUI LANTAS DIRI

M
Muna tasya
24 Jun 2026 13:26 WIB

PENULIS:RISKA HIKMAH 

KELAS:X.B

Arlan selalu merasa hidupnya adalah sebuah garis lurus yang membosankan. Setiap pagi ia bangun, menyeduh kopi yang sama, berangkat ke kantor yang sama, dan pulang dengan kelelahan yang juga sama. Baginya, "diri" adalah sebuah kotak sempit yang dinding-dindingnya terbuat dari ekspektasi orang lain dan ketakutannya sendiri.

Suatu sore, di sebuah kedai kopi tua yang nyaris rubuh, Arlan bertemu dengan seorang kakek yang sedang asyik mencoret-coret kertas kosong. Bukan gambar, melainkan garis-garis abstrak yang tampak tidak memiliki ujung.

"Apa yang sedang Kakek gambar?" tanya Arlan penasaran.

Kakek itu mendongak, matanya jernih meski kulitnya sudah keriput. “Aku sedang mencoba melampaui lantas diri, Nak.”

Arlan mengernyit. “Lantas diri? Apa itu?”

"Lantas diri adalah sosok yang langsung menjawab 'tidak bisa' saat kau punya mimpi besar. Lantas diri adalah suara yang bilang 'aman di sini saja' saat kau ingin melompat. Ia adalah refleks egomu yang ingin melindungimu, tapi justru memenjarakanmu," jelas sang kakek sambil menyesap tehnya.

Arlan terdiam. Ia merasa seolah kakek itu baru saja membedah isi kepalanya. Selama ini, setiap kali Arlan ingin berhenti dari pekerjaannya yang menyesakkan untuk mengejar cita-citanya menjadi seorang pembuat biola, suara "lantas" itu selalu muncul: Lantas, bagaimana kau makan? Lantas, apa kata orang tuamu? Lantas, jika kau gagal, kau mau jadi apa?

Kakek itu meletakkan pensilnya. Garis-garis abstrak di kertas kosong itu kini terlihat seperti tangga yang ujungnya hilang di udara.

"Melampauinya?" Kakek tersenyum kecil. “Jangan dilawan, Nak. Dengarkan saja. Lalu jawab.”

Arlan bingung. “Jawab apa?”

"Jawab dengan tindakan sekecil apapun." Kakek mendorong kertas itu ke arah Arlan. “Kau bilang ingin jadi pembuat biola. 'Lantas diri' akan terus bertanya. Lantas makan? Lantas gagal? Kau tak perlu punya semua jawaban malam ini. Cukup jawab satu: lantas... apa langkah pertama?”

Arlan menatap kertas kosong itu lama. Jari-jarinya gemetar. Selama ini ia menunggu jawaban sempurna sebelum bergerak. Menunggu aman. Menunggu restu.

Malam itu, sepulang dari kedai, Arlan tak langsung resign. Ia belum seberani itu. Tapi ia melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan 10 tahun terakhir: ia buka laci, mengeluarkan kayu maple tua yang ia simpan diam-diam sejak kuliah. Kayu calon biola pertama.

Ia tak jadi pembuat biola esok paginya. Ia tetap menyeduh kopi, tetap ke kantor. Tapi kali ini, setelah pulang, ia menghabiskan 30 menit menggergaji kayu itu. Tangannya lecet. Berisik. Berantakan.

"Lantas, kalau orang tuamu tahu?" suara itu muncul lagi di kepalanya.

Arlan berhenti sejenak, lalu berbisik pada dirinya sendiri: “Lantas... aku akan tunjukkan ke mereka kalau aku serius. Satu goresan tiap hari.”

Bulan berganti. Kotak sempit itu belum runtuh. Tapi ada retakan kecil di dindingnya. Retakan berbentuk garis abstrak tanpa ujung, sama seperti gambar kakek.

Setiap kali "lantas diri" bertanya, Arlan tak lagi diam. Ia jawab dengan serpihan kayu, dengan nada fals dari senar pertama yang ia pasang, dengan kopi yang kini ia seduh sambil memutar podcast tentang pembuatan biola.

Ia belum melampaui sepenuhnya. Tapi ia sudah melangkah keluar dari garis lurus.

Dan di kedai kopi tua itu, kakek itu masih suka duduk. Mencoret kertas kosong. Menunggu anak-anak muda lain yang lelah dengan hidup garis lurus, untuk belajar satu hal: 

Mimpi besar tidak dimulai dari jawaban. Mimpi besar dimulai saat kau berani melangkah, meski "lantas" masih terus bertanya.

*Tamat* ✨

*Amanat*: Keberanian bukan berarti tanpa rasa takut. Melampaui "lantas diri" berarti tetap melangkah meski kepala penuh pertanyaan. Satu tindakan kecil hari ini lebih berarti dari seribu rencana sempurna besok.                                         

4 DILIHAT
KATEGORI: BULETIN SISWA