Muna tasya
25 Jun 2026 • 15:36 WIB
By Saskia Saputri
Kelas: Xll-A
Saat itu hujan baru saja berhenti. Namun udara di kamar masih dingin, seperti menyimpan sisa-sisa langit yang belum selesai menangis. Dari jendela rumah sederhana, suara motor sesekali lewat memecah keheningan malam yang tidak benar-benar sunyi. Di dalam sana lampu kamar menyala kuning redup memperlihatkan seorang gadis duduk diam di depan cermin yang retak.
Namanya Dwi Putrianka, siswi kelas XI di sebuah SMA negeri di kota kecil Sumatera Utara. Tidak ada yang istimewa dari kamar itu, hanya ada meja belajar sederhana, buku yang terbuka setengah dan ponsel yang sejak tadi tidak berhenti menyala. Dwi mematung, matanya tertuju pada cermin di depannya. Cermin yang sudah lama retak di sudut, retakan yang muncul beberapa tahun lalu saat cermin tersebut terjatuh.
Gadis itu bukan tipe siswi yang mudah terlihat di keramaian. Di sekolah, ia seperti berada di pinggir bingkai foto. Ada tapi sering tidak dianggap bagian utama. Ia duduk di bangku paling belakang dekat jendela, karena angin dari luar sering masuk pelan membuatnya nyaman. Setidaknya itu satu-satunya bagian sekolah yang terasa jujur baginya karena angin tidak pernah mengejek.
Setiap pagi, Dwi datang lebih awal bukan karena semangat. Namun karena ia ingin menghindari satu hal yang paling ia benci yaitu tatapan orang lain terutama teman sebayanya. Tatapan yang selalu seolah punya kalimat sendiri tanpa suara, namun cukup untuk membuatnya menunduk.
Di sekolah, Dwi bukan siapa-siapa. Bukan ketua kelas ataupun siswi populer. Sampai suatu hari,
“Wi, nanti kamu yang pegang HP ya buat foto sekelas” Kata salah satu temannya. Sedangkan teman yang lain hanya menatap seakan menyuruh gadis itu untuk mengiyakan.
Dwi tersenyum kecil.
“Kenapa aku gak ikut difoto? Kan aku juga bagian dari kelas ini” Kata Dwi kepada mereka.
“Ya… biar hasilnya lebih bagus aja, nanti kami mau post di IG kelas! So, kalo ada kamu kayaknya bakalan aneh deh hasilnya” Sahut temannya lalu menoleh kearah teman yang lain kemudian mereka tertawa pelan.
Kalimat itu sederhana, namun ekspresi mereka membuat Dwi merasa seperti ditarik keluar dari sesuatu yang seharusnya ia bagian di dalamnya.
Di kantin sekolah Dwi duduk sendiri, aroma bakso bercampur dengan harum pop mie memenuhi isi kantin. Tidak lama kemudian tiga teman sekelasnya lewat sambil membuka kamera depan.
“Eh sini, foto lagi girls!” Ucap teman Dwi yang berkulit putih.
Klik.
Klik.
Klik.
“Wi, kamu gak ikut?” tanya salah satu temannya.
Harapan kecil sempat muncul di dada Dwi.
“Boleh?” Tanya Dwi menatap mereka.
Temannya tersenyum.
“Bol…” Seketika kata-kata itu menggantung.
“Udah sih, dia habisin makanannya aja. Keburu dingin itu makanan!" Potong teman lain yang merupakan panutan kelas. Sebenarnya dia bukan siapa-siapa, hanya saja dia seseorang yang nekat jika sudah benci pada orang ,maka dari itu mereka takut kepadanya.
"Ngapain sih kamu ajak dia?! Ganggu ke aesthetic-kan aja tau gak!” Sambungnya.
Mendengar itu dada Dwi sesak, rasanya ia ingin menangis dan berteriak sekeras mungkin untuk meluapkan isi hati yang sedang ia rasakan. Suara itu memang tidak keras, tapi cukup membuat Dwi merasa lebih insecure karena ia ada tapi tidak pernah dipilih untuk terlihat.
Malam di rumah Dwi tidak benar-benar sunyi. Ada suara TV dari ruang tamu beradu dengan suara motor lewat. Namun di kamar, semuanya terasa jauh. Ia berdiri di depan cermin menatap pantulan wajahnya, jerawat yang tumbuh semakin banyak di pipi dan bekas-bekas kemerahan yang sulit hilang. Kulit yang lebih gelap dibanding kebanyakan teman perempuannya. Wajah yang tidak simetris dan senyum yang sudah lama terasa asing.
Dwi memandangi dirinya cukup lama. Lalu menghela nafas.
"Kenapa sih hidup ku begini…?" Rintihnya pelan.
“Kenapa aku diciptakan…untuk selalu jadi bahan candaan semua orang?” Sambungnya dengan mata berkaca-kaca seolah ingin menangis.
Pertanyaan itu sering muncul bahkan sudah ratusan kali ditanyakan pada dirinya sendiri, terutama pada Tuhan.
Setelah beberapa jam kemudian dari luar kamar terdengar suara Ibu.
“Dwi…, makan malamnya nanti keburu dingin.”
"Iya, Bu… tunggu sebentar. Dwi keluar sekarang!!" Gadis itu menjauh dari cermin. Namun sebelum pergi, ia sempat melihat retakan di sudut kaca. Anehnya semakin lama dilihat, semakin terasa bahwa cermin itu mirip dengannya. Masih utuh tapi tidak benar-benar utuh.
***
Rintik-rintik hujan perlahan membasahi genteng. Hujan turun malam itu, lebih deras dari biasanya. Seolah langit sedang tidak sanggup menahan sesuatu. Setelah selesai makan malam Dwi kembali ke kamarnya. Dia duduk diam di pinggir tempat tidur, sebelum akhirnya kembali menatap cermin. Tangannya gemetar, di kepalanya suara teman-teman bercampur menjadi satu.
“Dia jelek, gak cocok gabung sama kita…”
“Kasihan kameranya kalo ada dia…”
“Untung dia gak masuk frame…”
PRANG!!!
Satu benda mengenai cermin, retakan menyebar. Dwi terduduk, bukan karena kaget tapi karena pikirannya kosong yang ia ingat hanya kata-kata menyakitkan itu. Di lantai, pecahan kaca memantulkan dirinya dalam potongan kecil tidak utuh. Seperti cara orang lain melihatnya. Malam itu Dwi tidur dengan tangisan, lantai kamarnya dipenuhi dengan pecahan cermin.
Keesokan paginya, langit belum benar-benar cerah, awan masih mendung. Aroma tanah yang semalam dibasahi hujan menusuk hidung. Dwi duduk di teras rumah, tidak banyak bergerak. Matanya sembab, wajahnya pucat seperti orang yang tidak tidur. Di dalam kamar, cermin yang retak masih tergeletak di lantai. Ia belum berani mendekat karena setiap kali Dwi melihatnya, ia seperti melihat dirinya sendiri dalam versi yang lebih jujur dari yang sanggup ia terima.
Tiba-tiba terdengar suara kecil dari depan rumah.
“Ya Allah... jatuh lagi” Suara paruh baya terdengar.
Gadis itu menoleh.
Di depan pagar, seorang Nenek penjual bunga sedang membungkuk memunguti bunga yang berjatuhan dari keranjangnya. Nenek itu bukan orang asing, hampir setiap pagi Dwi melihatnya lewat di depan rumah sambil membawa keranjang anyaman yang sama. Kadang Nenek itu tersenyum, kadang hanya berjalan pelan tanpa berkata apa-apa.
Di tanah, beberapa bunga kecil yang jatuh dari keranjang tidak sengaja terinjak sedikit oleh motor berlalu-lalang. Nenek itu tidak langsung memungutnya, ia justru menatap Dwi sebentar yang kebetulan ia lihat ketika memalingkan wajah. Dwi hanya diam tidak bersuara. Nenek itu kemudian jongkok, mulai memungut bunga satu per satu. Tangannya lambat, tapi tidak tergesa.
“Biar saya bantu, Nek” Ucap Dwi seketika langsung berdiri dan maju mendekat membantu memungut bunga.
Nenek itu tersenyum hangat.
“Terima kasih, Cu…”
Hening…
Hanya suara daun berjatuhan ditiup angin dan motor lewat di jalan. Saat mereka sama-sama memungut bunga, nenek itu tiba-tiba berkata tanpa menoleh,
“Cu…” Panggilnya pelan dengan suara yang mulai melemah dimakan usia.
“I-iya Nek?" Suara Dwi sedikit serak.
"Kamu tahu kenapa bunga yang jatuh tetap Nenek pungut?” Tanya Nenek menghentikan tangannya lalu menatap Dwi sebentar.
Dwi menggeleng pelan. Nenek itu tersenyum tipis, kemudian kembali memungut bunga.
“Karena yang jatuh itu tidak berarti kehilangan nilainya,” Kata si Nenek sambil mengangkat satu bunga kecil yang kelopaknya sedikit rusak.
Dwi hanya diam tidak menjawab.
“Orang sering memilih bunga yang paling segar. Yang warnanya paling cerah. Tapi nenek sudah lama jualan bunga…” Ucap Nenek kemudian.
Nenek tersenyum tipis.
“Kadang bunga yang hampir layu justru paling harum” Tambah Nenek.
Dwi menunduk.
“Manusia juga begitu. Jangan terlalu percaya pada mata orang lain. Mata manusia sering salah” Ucap Nenek itu yang hendak berdiri mengangkat keranjang.
Kalimat itu sederhana, namun membuat Dwi berhenti bergerak sejenak. Seolah kalimat itu tidak hanya untuk bunga.
Hening…
Sebelum pergi Nenek meletakkan bunga layu tadi di pagar rumah gadis itu. Tidak ada penutup panjang maupun nasihat tambahan. Hanya langkah kaki yang perlahan menjauh meninggalkan bunga kecil yang sudah layu.
Malamnya, Dwi mengumpulkan pecahan cermin satu per satu. Tangannya sedikit terluka, tapi ia tidak berhenti. Di setiap pecahan, ia melihat dirinya namun kali ini dengan sudut pandang berbeda.
“Kalau aku terus mendengar kata orang yang selalu sibuk menilai diriku…” Gumamnya pelan, kemudian ia menatap pecahan di tangannya.
“Mungkin aku tidak akan pernah merasa tenang ataupun percaya diri. Aku harus berubah, aku harus ingat bahwa Tuhan menciptakanku dengan alasan yang pasti gak pernah keliru…” Tegas Dwi kepada dirinya sendiri.
Sementara itu di antara pecahan kaca, Dwi mengambil satu yang paling besar. Ia membersihkannya sedikit, kemudian ia tidak sengaja melihat sesuatu yang selama ini tidak pernah disadari. Di bagian belakang kaca cermin itu ada tulisan kecil pabrik yang sudah pudar, namun masih terbaca,
“Made with care”
Dwi mengernyit.
“Care…” Gumamnya pelan lalu ia melihat pecahan lain.
Tulisan itu tersambung di beberapa bagian. ‘Made with care’, tangannya berhenti, dadanya terasa sunyi bukan kosong tapi sunyi yang dalam seolah semua suara di kepalanya berhenti sejenak.
“Kalau benda biasa aja dibuat dengan penuh perhatian, bagaimana mungkin diriku diciptakan tanpa tujuan?” Gumamnya dalam hati. Air mata menetes perlahan.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak menangis karena membenci dirinya sendiri. Namun karena sadar bahwa selama ini ia terlalu sibuk melihat dirinya lewat mata manusia, sampai lupa melihat dirinya lewat kasih Sang Pencipta.
Hari-hari setelah itu tidak berubah drastis, sekolah masih sama dengan suara tawa dan tatapan meremehkan masih menatapnya. Namun Dwi tidak lagi insecure seperti dulu. Sampai suatu ketika, “Wi...” Seseorang memanggilnya.
Dwi menoleh.
Teman yang selama ini paling sering mengejeknya berdiri di depan kelas sambil menggenggam ponsel.
“Aku mau minta maaf,” Kata temannya dengan suara sedikit tegang.
Dwi terdiam menatap.
“Aku sadar belakangan ini aku sering keterlaluan. Bahkan mungkin, aku gak sadar kalau… kata-kataku nyakitin kamu.”
Beberapa detik berlalu. Dwi tidak langsung menjawab. Untuk pertama kalinya, ia melihat penyesalan yang sungguh-sungguh di wajah temannya.
“Kalau kamu mau... ikutlah masuk ke video ini. Karena memang dari awal kamu bagian dari kelas ini.”
Seketika Dwi sempat kaget, namun ia tidak langsung menolak. Ia berdiri di depan kamera, tidak sempurna dan tidak juga mengikuti standar siapa pun.
Ketika malam, Dwi kembali ke cermin yang retak itu, cermin yang belum sempat dibuang. Dia menatap pantulannya lalu tersenyum kecil.
“Aku gak harus jadi versi yang disukai semua orang, untuk tetap jadi ciptaan yang berharga” Katanya pelan sambil melihat pecahan cermin satu persatu.
“Manusia cuma lihat luar ku aja,” kata-katanya menggantung.
“Tapi Sang Pencipta melihat seluruhku” sambungnya dengan senyum terukir di wajahnya.
Di luar rumah, azan Isya terdengar dari masjid bercampur hawa dingin angin malam yang masuk lewat jendela. Untuk pertama kalinya Dwi tidak merasa sendirian. Ia mulai mengingat Sang Pencipta.
TAMAT